Oke, kenapa gw cuma ngepost episode terakhir? karena bagian terakhir ini yang bikin sedih dan bikin tak terlupakan hiks..hiks.. *bilang aja males nulis episode 1-19!!*

Setelah nonton drama ini, suwer terkewer-kewer gw gak bisa melupakan setiap scene nya. Ini adalah drama yang bener-bener bikin gue terharu serta sampai tidurpun masih terbayang-bayang sama nasib Park Ha dan Lee Gak.

Oke langsung aja yaaaaaaa..

Mundur sedikit ke episode 19, dimana Park Ha dan Lee Gak akhirnya menikah di rumah atap mereka.

Image

Mereka mengikat janji untuk saling mencintai selama-lamanya.  Mereka saling berciuman seakan-akan itu adalah ciuman terakhir mereka.

Image

Sampai akhirnya tiba-tiba Lee Gak harus menghilang dan kembali ke Joseon. Disini Park Ha hanya terus menatap sedih dan bingung sang pangeran yang sedikit demi sedikit menghilang dari hadapannya.

Image

Tanpa berkata apa-apa dan hanya saling bertatap sedih (karena itu merupakan kebersamaan terakhir mereka maka mereka terus memanfaatkan waktu tersebut) sang pangeran pun menghilang bersama angin…

Image

Park Ha sangat sedih (pasti dong yaaa… saya juga nih hihi) karena ia kehilangan orang yang dicintainya tanpa mengatakan kata selamat tinggal.

Image (Kesian banget nasib lo ya onnie.. T^T)

Akhirnya Lee Gak “tiba” di Joseon. Bukannya muncul di rumah orang atau di istana tapi di kandang ayam punya orang. Masih menggunakan pakaian modernnya.

Image

Dengan pakaian serta potongan rambut yang seperti itu sudah pasti menjadi pusat perhatian orang-orang di kampung tersebut. Ternyata polisi disana mencari dan mengejar orang yang berpakaian aneh. Polisi kemudian melihat Lee Gak dan berteriak akan menangkapnya. Tentu saja Lee Gak berlari dan secara kebetulan bertemu dengan Chi San yang juga dikejar-kejar.

Image

Ditengah-tengah pengejaran, mereka berusaha untuk bersembunyi dan untungnya Polisi kehilangan jejak mereka. sebaliknya, tiba-tiba Chi San pingsan dengan cairan merah di bibirnya yang ternyata adalah saus tomat (apa saos cabe ya) dan pura-pura terluka. (bikin khawatir pangeran aja nih anak)

Image

Untungnya Lee Gak tiba-tiba melihat dua orang yang sepertinya dia kenal yakni Yong Seol dan Man Bo yang sudah berpakaian seperti penduduk asli (Gara-gara sebelum menghilang mereka udah bawa ransel kemana-mana, isi ransel itu ya baju tradisional mereka serta makanan dan minuman dari abad 21. Pinter banget antisipasinya haha).

Image

Dilain tempat, Menteri Hong Bu Yong (bapaknya Putri dan Buyong) mengadakan pertemuan dengan seseorang dalam rangka ingin menyingkirkan putra mahkota. Dan.. siapakah orang yang bekerja sama dengannya?? BOOM Shaka Laka!!… dia adalah Tae Mo oppaa!!! yeaaaah.. kalo di Joseon nama dia adalah Muchang Gun.

Image

Dilain tempat (lagi), akhirnya rombongannya Pangeran Lee Gak sudah bisa kembali ke istana. Pangeran yang diduga hilang oleh banyak orang kini telah memakai pakaian kebesarannya. Yong Seol, Man Bo dan Chi San memakai pakaian kebesaran masing-masing. Mereka pun melanjutkan penyelidikan.

Image

Pangeran kemudian dengan cepat memerintahkan anak buahnya untuk membawa keluarga Mentri Hong ke istana (tentunya dengan cara tidak terhormat). Di lapangan mereka diinterogasi secara langsung oleh pangeran, istri Mentri Hong sendiri tidak mengerti kenapa mereka diperlakukan seperti itu namun Mentri Hong sudah mengerti karena itu adalah politik yang sedang ia mainkan.  Pangeran bertanya dimana Buyong kepada Istri Mentri Hong, namun Nyonya Hong menjawab bahwa Buyong ada di kamarnya dan tidak ingin keluar kamar karena mengalami suatu penyakit. Pangeran tidak percaya dan semakin marah.

ImageImage

Oke sebelum dilanjutkan, kita kilas balik ke tujuh hari sebelum kematian putri, dimana pangeran masih bisa tersenyum dan berjalan-jalan dengan santainya di istana.  Kita bisa lihat Bu Yong selalu melihat pangeran dengan diam-diam, berjalan dari sudut ke sudut agar dirinya tidak ketahuan oleh pangeran bahwa dia sering memperhatikan pangeran. Tiba-tiba Buyong terpeleset dan terjatuh, dia pun menumpahkan bubuk berwarna putih di tanah.Image

Pangeran yang mengetahui hal itu kemudian datang mendekati buyong dan mengulurkan tangannya untuk membantu Buyong berdiri, walau sebenarnya Buyong sangat takut dan malu namun akhirnya Buyong mau meraih tangan pangeran.

Image

Pangeran bertanya apa yang dibawa Buyong, Buyong hanya mengetahui kalau itu adalah bedak dari cina yang dibawakan kakaknya khusus untuk sang putri. Pada saat itu juga pangeran mengatakan kalau tebakannya “apa yang mati dalam hidup, dan hidup dalam kematian” harus dijawab sebelum besok, kalau tidak Buyong akan kalah.

ImageImage

Bu-yong mengunjungi Putri Hwa-yong di istana dan memberikan bubuk tersebut beserta surat dari ayah mereka. Bu-yong mengatakan kalau bubuk itu mempunyai bau yang sedikit berbeda dengan bedak mungkin itu karena berasal dari China, dan ia meminta untuk memeriksanya. Tapi Hwa-yong-yang sedang membaca surat terganggu dan membentak Buyong untuk tidak menyentuhnya, Hwa Yong kelihatan sangat gelisah setelah membaca surat itu. Apa isi surat itu? membunuh sang pangeran kah?

ImageImage

Setiba dirumahnya, Buyong melihat Tae Mo (Muchang Gun) sedang duduk bersama ayahnya. Penasaran pada tamu asing mereka, Bu-yong bertanya kepada ibunya tentang dia, dan kemudian ia mengetahui bahwa Muchang-gun, adalah saudara tiri pangeran. ia ditendang keluar dari istana ketika ia berusia tiga tahun bersama ibunya.

Image

Dari hal-hal tersebut, Buyong kemudian merasa ada keanehan yang terjadi. Mulai dari bedak yang berbau aneh, surat ayah yang diminta kembali, serta saudara tiri pangeran yang tiba-tiba muncul. Buyong yang belum mengembalikan surat kepada ayahnya kemudian dengan penasaran membuka amplop yang telah disegel dan membacanya. Isinya adalah “Yang Mulia, ini sudah saatnya, dengarkan ayahmu baik-baik, kamu tidak boleh membuat kesalahan”. Buyong sangat terkejut dan bingung.

Image

Merasa ada hal yang tidak beres, Buyong akhirya memahami konspirasi yang sedang terjadi. Buyong langsung pergi ke istana untuk mengantisipasi kejadian buruk yang ia pikirkan.

Menteri Hong ingat bahwa dia seharusnya menerima kembali surat dari Buyong. Merasa curiga surat itu dibaca Buyong, Dia pun mengirimkan bawahan nya untuk mengambilnya namun surat itu telah ditemukan terbuka di kamar Buyong. Kemudian dengan cepat Muchang Gun memerintahkan mencari Buyong dan bila perlu dibunuh.

Seperti yang telah dipikirkan oleh Buyong bahwa Hwayong akan menaburkan bubuk putih tersebut di kesemek kering pada jamuan malam pangeran ternyata benar adanya.

Image

Untungnya sebelum pangeran menyentuh kesemek itu, Buyong sudah tiba di istana dan ia menjelaskan bahwa kehadirannya itu adalah untuk menjawab teka-teki dari sang pangeran,  dilain pihak Hwayong memarahi dia karena mengabaikan aturan istana dengan datang tanpa diundang, dan menyuruhnya untuk kembali besok. Namun pangeran mengizinkan Buyong untuk tetap tinggal dan menjawab teka-tekinya.

Buyong mengatakan bahwa jawabannya adalah Bu-yong (teratai). Buyong menjelaskan teratai adalah bunga yang tumbuh di kolam, yang akarnya jauh di bawah ke dalam tanah, di mana semua makhluk hidup mati. Untuk bunga, bunga teratai mengambil dalam apa yang telah meninggal, meskipun ia hidup, bunga harus mati dulu untuk menghasilan benih yang kemudian kembali jatuh ke tanah untuk membawa kehidupan baru. Selanjutnya, dalam Buddhisme samsara adalah konsep dari siklus lahir-hidup-mati, yang diwakili oleh teratai. (Sumpah pas nonton gue agak bingung dengan penjelasan si Buyong, tapi setelah dipikir-pikir akhirnya ngerti juga. filosofinya agak berat buat saya kali ya hahahahaa)

Pangeran merasa puas dengan jawaban Buyong. Buyong meminta hadiah atas jawaban benarnya dengan meminta buah kesemek kering yang ada dihadapannya. Pangeran merasa itu adalah hadiah yang sederhana namun ia mengizinkan Buyong memakannya. Dengan gemetar Buyong memakan Kesemek sampai habis disaksikan oleh Hwayong yang kaget dan tidak bisa bertindak apa-apa.

Image

Setelah memakan habis kesemek kering, Buyong izin pamit kepada pangeran dan meminta Hwayong untuk menemuinya di Paviliun teratai nantinya. Diluar, ia sudah mulai merasa pusing dan tidak enak badan (efek racun mulai bekerja sedikit-demi sedikit). Diperjalanan ia sudah merasa sesak nafas dan teringat akan masa-masa ia bersama dengan pangeran. Rasa sakit akan racun dan memori tentang pangeran membuatnya menangis di waktu yang sama. Mungkin ia sedih karena tidak akan bisa bersama pangeran lagi selama-lamanya.

Image

Setelah pangeran tertidur, Hwayong menyelinap pergi dengan dua dayang menuju ke paviliun. Hwayong bilang bahwa pengorbanan besar Buyong merusak segalanya. Namun Buyong yang cerdas berkata kalau setelah ia mati akan ada bukti bahwa ia diracuni karena memakan kesemek pangeran, dan seluruh keluarga mereka akan dibunuh jika hal ini terkait dengan upaya terhadap pangeran. Tapi Bu-yong memohon dengan kakaknya untuk satu permintaan terakhir, yakni melindungi sang pangeran.

Agar pangeran tetap selamat dan Keluarganya aman, Buyong memiliki rencana: Buyong meminta bertukar pakaian dengan Hwayong. Jika tubuhnya yang mati diyakini sebagai putri itu akan membelokkan kecurigaan dari upaya pembunuhan terhadap Pangeran. Ini berarti Hwa-yong harus menyerahkan identitasnya sebagai sang putri, demi keamanan keluarganya.

Image

Akhirnya, buyong memakai pakaian putri dan Hwayong memakai pakaian Buyong plus cadarnya dan keluar dari istana meninggalkan Buyong di paviliun. Dalam keadaan sekarat, buyong menuliskan sepucuk surat untuk pangeran dan menyelipkannya di balik tirai dinding.

Dengan penuh rasa sakit Buyong keluar dari paviliun, berjalan menyusuri jembatan didanau, dengan sangat lama ia memandang ke dalam air dengan gemetar kesakitan dan ketakutan akan kematiannya. Ia Bergumam dengan sedih, “Yang Mulia…” . Lalu Buyong menutup matanya dan jatuh ke dalam air.

Image

Oke, itu akhir dari flashbacknya. kembali ke acara interogasi pangeran. Mentri Hong mengatakan kalau Buyong masih berada di kamarnya karena sakit, Pangeran tidak percaya kemudian membawa rombongannya ke paviliun untuk membuktikan hal itu.

ImageImage

Saat menggeledah paviliun ternyata ditemukan sang Putri sedang bersembunyi dengan masih menggunakan cadar. Ia kemudian digeret keluar. Tiba-tiba ada sergapan pasukan dari Mochang Gun dan menyerang pangeran. Semua anak buah Mochang Gun bisa ditaklukan, namun Mochang Gun dengan sigap membidik anak panah tepat ke dada pangeran.

Pangeran merasa terkejut, namun kemudian ia menyadari ia masih hidup. ternyata anak panah tersebut menancap di bandul kalung yang diberikan Park Ha. Ia pun berfikir “ah.. Park Ha telah menyelamatkan hidupku lagi…”

ImageImage

Sebelum kabur, Mochang Gun akhirnya bisa di taklukan dan tidak bisa kabur kemana-mana.  Pangeran kemudian mendekati Hwayong yang masih memakai cadar, ia menyuruh Hwayong mengaku namun Hwayong diam saja. Merasa geram, pangeran menarik cadar Hwayong dan dalam waktu yang sama Hwayong meminta ampunan dari pangeran.

Image

Akhirnya mereka semua diadili, Muchang Gun serta komplotan Mentri Hong dihukum pancung sebaliknya Hwayong dan Istri Mentri Hong diasingkan kesuatu tempat. Kasus selesai.

Image

Beberapa hari kemudian, pangeran berjalan sendirian di atas jembatan (didanau tempat Buyong tewas). Ia memikirkan Park Ha, ia berjalan menuju Paviliun teratai, tatapannya menetap pada tirai dinding. Ia melihat lukisan kupu-kupu saat itu juga ia melihat sebuah surat terselip,

Ia menarik surat itu dan membacanya:
     “Yang Mulia, jika Anda membaca surat ini itu berarti Anda masih hidup, dan itu membuat saya, Bu-yong, bahagia. Ada satu hal yang baik tentang kematian. Saya senang bahwa sekarang saya bisa mengatakan kata-kata yang telah lama saya pendam di hati saya. Aku mencintaimu, Yang Mulia. Saya menjaga Anda seumur hidup saya. walau hidup meskipun sekarat, dan mati. bahkan sampai ratusan tahun kemudian, saya akan mencintaimu”

ImageImageImageImage

Pangeran sangat sedih, kemudian ia berinisiatif untuk menulis sebuah surat , “Park Ha-ya, saya tiba dengan selamat. Apa kabar..  ” Ia menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam tabung, Ia menaruh tabung tersebut ke tempat di mana ia mengambil liontin giok untuk Park Ha.

Kembali ke abad 21, di mana Park Ha berjalan-jalan di “wilayah” pariwisata istana. Dia menuju ke tempat dimana Lee Gak menyembunyikan liontin giok dan berharap ia bisa menemukan sesuatu. Tak disangka, ia menemukan sebuah tabung, dan kemudian menemukan surat didalamnya.

Isi surat itu melanjutkan:

     “Jika kamu bisa membaca surat ini, berarti tiga ratus tahun telah berlalu. Dan jika surat ini telah berada ke tanganmu, saya menarik kembali kata-kata saya yang memanggil kamu bodoh. Apakah bisnis jus buah mu berjalan dengan baik? Aku hanya bisa membayangkan apa yang sedang kamu lakukan, tidak bisa menyentuhmu. Aku merindukanmu. Aku ingin mendengar suara mu, dan menyentuh mu. Jika aku bisa mati dan bertemu dengan mu, aku ingin mati sekarang juga”

ImageImage

Kemudian, di toko jus buah Park Ha, tiba-tiba datanglah seseorang dengan wajah yang begitu familiar dimata kita. Dia adalah Tae Yong yang sudah sehat. Karena kebanyakan ngelamun, Park Ha tidak begitu memperhatikan kehadiran Tae Yong.

ImageImage

Dilain pihak, di Joseon, Yong Seol, Manbo dan Chi San membuka usaha nasi omelet Park Ha. dan Pangeran melepaskan kerinduan dengan memakan nasi omelete tersebut dengan memakai pakaian yang pertama kali diberikan oleh Park Ha. Walaupun masih sedih namun pangeran sepertinya bisa menghadapi itu semua.

Image

Kembali ke abad 21, tiba-tiba Park Ha mendapatkan kartu pos di pintu tokonya. Kartu tersebut bergambar dirinya dan ada tulisa E.O di bagian bawahnya. Hal itu mengingatkannya kepada kartu pos yang di berika Tae Yong padanya beberapa tahun yang lalu di Amerika.  Di kartu pos tersebut Tae Yong meminta untuk bertemu disuatu tempat.

Image

Park Ha tiba disebuah taman, sendirian melihat sekitar, mencari sosok yang dikenalnya. tiba-tiba Taeyong datang menghampirinya dan bertanya “Mengapa kau begitu terlambat? Aku sudah menunggu untuk waktu yang lama”.  Park Ha bertanya “kamu kemana saja? karena aku di sini sepanjang waktu..” (ohh.. so touching… seakan akan mengatakan kalau mereka sudah saling rindu)

Image

Park Ha menatap Taeyong, ia ingin tahu apakah yang berada dihadapannya adalah Lee Gak ataukah Taeyong, tapi itu tidak sepenuhnya jelas. Namun saat Taeyong menggenggam tangan Park Ha, tiba-tiba Taeyong bertranformasi menjadi Pangeran lengkap dengan pakaiannya (mungkin mau ngasih tau kalau sampai kapanpun, mau renkarnasi jadi apa kek tetep aja dia cinta, kangen, sama Park Ha seorang)

Image

Pangeran menangis, Park Ha terharu. Beginilah cinta yang terbatas oleh waktu. Walau sudah berpisah dan berada di waktu yang berbeda, cinta dan kenangan akan terus berada dihati mereka selama-lamanya walau sampai seribu tahun kemudian…

ImageImageImage

THE END.

Begitulah cerita episode terakhir kisah Rooftop Prince. Happy Ending kah? Sad Ending kah? walaupun begitu, saya menyimpulkan bahwa, di masa lalu Buyong tidak bisa meraih cinta pangeran, namun di masa sekarang, ia bisa meraih cintanya terhadap pangeran (walau sebenernya mungkin dia bakal meneruskan hidupnya sama Taeyong bukan Lee Gak).

Okeh.. kaya nya gue harus nonton drama lain biar bisa menghilangkan efek sedih gara-gara drama ini. hehehe..

 

Credits: Thanks for All pictures from http://www.dramabeans.com/2012/05/rooftop-prince-episode-20-final/

and you guys can read the whole episodes in that link.🙂